Menyiasati Rekening Listrik

Baru-baru ini beberapa ibu-ibu rumah tangga mengeluhkan rekening listriknya naik terus. Dulu biasanya membayar Rp.400 ribuan per bulan, sekarang lebih dari Rp.600 ribuan. Padahal, daya listriknya di rumah hanya 1300 VA, dan mengaku sebagai rumah tangga miskin.

Rasa penasaran, mengapa begitu mahal rekening listriknya, saya mengunjungi rumah salah satu ibu yang mengeluh tadi, dan benar rumahnya masuk gang kecil yang hanya dapat dicapai dengan jalan kaki atau kendaraan roda dua. Rumah tetangga di kiri, kanan, dan depan rumahnya juga rumah sederhana, yang karena sederhananya, atap rumahnya bisa disentuh tanpa harus melompat.

Bila rekening listriknya per bulan Rp.650 ribu, dan misalkan harga listrik per kWh (termasuk pajak penerangan jalan Rp.1500/kWh, maka pemakaian listriknya sekitar 430 kWh per bulan. Pemakaian listrik sebesar itu relatif sangat besar untuk satu rumah sederhana dengan daya 1300 VA. Rumah si ibu juga digunakan sebagai warung kecil untuk menjual minuman, makanan cepat saji (mie seduh), rokok, dll.

Kemungkinan penyebab besarnya pemakaian listrik antara lain:

  • Alat ukur kWh meter sudah tidak akurat lagi, atau
  • Petugas pembaca meter tidak membaca dengan benar, atau
  • Memang pemakaian listriknya besar.

Ketika meneliti pemakaian listrik di rumah si ibu, ternyata alat ukur kWh meter berfungsi dengan baik. Demikian juga, hasil pencatatan stand meter kWh tidak ada keanehan. Maka, giliran untuk mempelajari pemakaian listrik di rumah.

Peralatan listrik di rumah si ibu yang sempat tercatat antara lain:

  • Teve tabung 2 buah
  • Rice cooker 350 W/77 W
  • Refrigerator 150 W
  • Kulkas 150 W
  • Seterika 300 W
  • Dispenser 350 W
  • Pompa air 150 W
  • Lampu 4 bh @ 12 W
  • Kipas Angin

Kalau melihat peralatan listrik yang ada di rumah, wajar-wajar saja untuk sebuah rumah dengan daya 1300 VA. Hanya saja, mengapa pemakaian listriknya tinggi? Sebenarnya, pemakaian listrik yang wajar untuk rumah tangga sederhana 1300 VA di sekitar 150 hingga 250 kWh per bulan. Kenyataannya, pemakaian listriknya lebih dari 400 kWh per bulan.

Apa yang terjadi? Ternyata, rumah tangga si ibu memakai peralatan listrik tidak secara hemat. Mengapa? Berikut ini penjelasan dari beberapa temuan:

  • Pemanas di Rice Cooker, 77 W

miyako-mcm-528-rice-cooker-3508-08701351-ae95e17b93c57f69e4ddb76e57390fc5-zoomrice cooker

Rumah tangga ini menanak nasi memanfaatkan panas dari kompor gas. Hanya saja, setelah nasi matang, nasi dipindah ke rice cooker untuk dihangatkan dengan memanfaatkan fungsi pemanas rice cooker. Ketika saya tanyakan, mengapa menggunakan rice cooker untuk tetap menghangatkan nasi? Jawabnya: lebih hemat, karena wattnya hanya 5 watt. Lho kok tau hanya 5 watt? Itu iklan di teve kan menyatakan untuk menjaga nasi agar tetap hangat, listriknya hanya 5 watt. Waaahh…, keliru. Saya tunjukkan name-plate rice cooker, ada tulisan 350 W/77 W. Artinya, kalau menanak nasi, memakai listrik 350 W. Kalau menghangatkan nasi, memakai listrik 77 W, bukan 5 W.

Karenanya, untuk menghemat listrik, saya sarankan untuk memasak nasi ketika menjelang waktu makan, sehingga dapat habis setelah makan usai. Kalaupun perlu tetap menyimpan nasi, cukup pakai termos nasi. Kalau pakai rice cooker dengan daya listrik 77 W, maka pemakaian listrik akan besar. Bila sehari rice cooker memanaskan nasi 10 jam, dan demikian terus setiap hari selama sebulan, maka pemakaian listrik dari penghangat rice cooker adalah= 77 W x 10 jam/hari x 30 hari/bulan= 23,1 kWh/bulan. Andaikan rumah tangga ini tidak menggunakan penghangat rice cooker, maka bisa menghemat 23,1 kWh x Rp1500/kWh= Rp34.650/bulan.

  • Dispenser Air, 350 W

dispenser-air_miyako-wd-190ph-dispenser---putih_1551668_2_66377Dispenser.jpg

Rumah tangga ini menggunakan dispenser untuk menyediakan air panas. Pemanasan air menggunakan dispenser berlangsung terus karena sesewaktu diperlukan, air panas tersedia. Keperluan air panas ini untuk menyeduh kopi atau menyeduh mie rebus yang sesewaktu dipesan pembeli di warung. Daya listriknya 350 watt. Si ibu merasa puas dengan kerja dispenser, karena airnya cukup panas, bisa menyeduh kopi dan memasak mie rebus.

Saya mengingatkan, menggunakan dispenser untuk selalu menyediakan air panas setiap saat, memiliki konsekuensi pemakaian listrik akan banyak, dan rekening listrik menjadi mahal. Saya sarankan, nyalakan dispenser jika air panas sudah diperlukan. Paling perlu waktu 3-5 menit saja untuk mencapai panas air sekitar 90 derajad. Dari pada menyalakan terus pemanas dispenser, sedangkan pembeli kopi maupun mie rebus hanya sesekali saja.

  • Kulkas showcase, 150 W

Kulkas showcase

Rumah tangga ini juga memiliki kulkas dua pintu dan kulkas showcase. Semula, kulkas showcase digunakan untuk mendinginkan minuman dagangan dan menjaganya tetap dingin. Masing-masing daya listrik dari kulkas dan kulkas showcase sekitar 150 – 195 watt.

Untuk menghemat listrik, saya menyarankan agar kulkas showcase dihentikan saja penggunaannya, karena minuman yang didinginkan tidak banyak, bisa digabung di kulkas.

  • Lampu penerangan

Rumah ini menggunakan lampu kompak hemat energi dengan daya listrik sekitar @ 18 watt. Saat saya mengunjungi rumah ini, lampu rumah di lantai bawah dua buah sedang menyala. Saya menyarankan agar lampu dimatikan saja, karena ada cahaya matahari yang masuk ke rumah sehingga cukup terang.

Kesimpulan saya, pelanggan ini memakai listrik dengan cara yang tidak hemat hanya karena ketidaktahuan, yang menyebabkan pemakaian listrik menjadi tinggi dan rekening listrik menjadi mahal.

Semoga dengan langkah-langkah penghematan pemakaian listrik, rekening listrik di bulan-bulan berikutnya bisa menjadi lebih kecil sehingga beban keuangan rumah tangga ini lebih ringan.

Salam pencerahan.

Benny Marbun

Author: Benny Marbun

Semula berminat di bidang arsitektur, namun karena tertarik ke ilmu Fisika, akhirnya memilih Fakultas Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (Ir). Setelah lulus, lanjut berkarir di PT PLN (Persero). Lalu, melanjutkan studi di Engineering Faculty Melbourne University untuk program pasca sarjana (MEngSc), dan kembali melanjutkan karir di PT PLN (Persero) mulai dari Kepala Cabang, General Manager, Kepala Divisi Niaga, Komisaris di lingkungan group PT PLN (Persero)

8 thoughts on “Menyiasati Rekening Listrik”

  1. Berbagi informasi dan semoga membantu.
    Kunci dari penghematan listrik (mungkin) hanya 1: identifikasi konsumsi dan lakukan adjustment/penyesuaian.
    Permasalahan adalah bagaimana kita bisa mengenali penggunaan listrik (di rumah/kantor/pabrik) secara langsung dan detail? Sehingga kita bisa cepat mengambil tindakan yang diperlukan untuk penghematan tagihan listrik? (tanpa menunggu akhir bulan untuk melihat tagihan yang sudah “terlanjur” keluar)

    Saat ini di Indonesia sudah ada layanan monitoring penggunaan listrik, contoh: layanan dari http://listrik.ID
    Pengguna bisa memasang sensor dan begitu sensor telah terpasang, data kelistrikan akan langsung diproses dan pengguna dapat langsung mengetahui (melalui web dan mobile app) secara real-time dan detail berapa kWh listrik yang telah digunakan hingga berapa rupiah yang akan tertagih, dst.

    Praktis dan sangat membantu saya menghemat listrik 🙂

    Like

    1. Saya setuju dengan cara pandang Bu Rachel untuk menggunakan listrik secara efektip. Memang, perlu mengenali penggunaan listrik secara langsung dan detil.
      Layanan baru yang ditawarkan untuk memonitor penggunaan listrik, boleh jadi akan semakin diminati oleh mereka yang peduli penggunaan energi yang efektip, peduli lingkungan hidup. Semoga sukses.

      Like

  2. Betul sekali Pak, penggunaan kwh meter pra bayar juga salah satu cara pelanggan memonitor penggunaan listriknya. Tambahan juga Pak, mnurut saya instalasi listrik yg tidak benar juga bisa membuat arus bocor. Disaat semua peralatan listrik mati, piringan meteran masih berputar lambat.
    Terimakasih sharingnya Pak.

    Like

    1. Benar Bung Reynold Pardede, dengan menggunakan kWh meter prabayar, mudah memantau penggunaan kWh.
      Arus bocor juga dapat merugikan konsumen, karena ada listrik yang dibayar konsumen namun tidak dimanfaatkannya.

      Like

    1. Ya, dispenser bila fungsi pendinginan dan fungsi pemanasnya diaktifkan, sangat boros listrik.
      Bila diaktifkan untuk pas ada acara hajatan saja, dan setelah selesai acara fungsi pendingin dan pemanasnya dimatikan lagi, ya boleh saja.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: